WAKTU DAN TAKDIR
Karya : Navi'atul Mufidati
Suasana begitu damai di ruang kelas. Dikka dan Riko
menghabiskan waktu istirahatnya untuk berdiskusi tentang pelajarannya .
Diluar
kelas terdengar seseorang memanggil.
"Dikka, siniii... dipanggil pak Zafir tuh , suruh
keruangannya!"
"Suruh ngapain sih???"
"Gak tau, , mendingan cepat-cepat
keruangannya gi !"
Dikka pergi keruangan pak Zafir ditemani Riko teman dekatnya. Pak
Zafir yang ada diruangannya mempersilahkan Dikka dan Riko dudukdan menceritakan
apa maksud dan tujuannya memanggil.
Tak banyak perkataannya, pak Zafir menjelaskan bahwa Dikka
mendapat beasiswa kuliah di Cairo, Mesir. Dikka tidak langsung menerima tawaran
itu. Masih harus berpikir panjang bagi Dikka untuk mengambil keputusan itu.
Disamping Dikka mempunyai kekasih yang sangat dicintainya, seumur hidup Dikka
belum pernah pergi keluar negeri sendiri.
"Ech Rik, gimana nih menurutmu, aku terima
tawaran itu gak?" Tanya Dikka dengan wajah bingung
" yah, kamu ini. ya terima donk.
kesempatan tu jangan ditunda-tunda." jawab Riko sewot
" Tapi Rik, Risha gimana?"
"Saran aku ni ya, mendingan kamu terus
trang sama Risha, akku yakin Risha gakkan marah, justru mungkin dia malah ikut
dukung kamu."
Dikka memandang keluar rumah, diam dan berpikir
mencari cara yang tepat untuk menceritakan kepada Risha. Tak lama kemudian,
tanpa pamit Dikka bergegas meninggalkan rumahnya untuk pergi menemui
Risha.
Diseparuh jalan menuju rumah Risha, Dikka melihat jam tangan
berwarna putih mengkilap terpampang disebuah toko. Dikka berhenti dan masuk
ketoko jam itu. Dibolak-balik jam itu, akhirnya Dikka tertarik untuk
membelinya.
Dibalik pohon dekat rumah Risha, Dikka melihat Risha sedang
menyiram bunga didepan rumahnya Dengan pakaian anggun yang ia kenakan, membuat
Dikka semakin gugup untuk menemuinya. Tanpa memikir, Dikka memutuskan
untuk meninggalkan rumah Risha.
Selangkah Dikka berjalan, suara lembut Risha memanggil
Dikka.
"Dikkaa.."
"Ech Risha.. " Berbalik
badan kearah Risha.
"Kok gak masuk.?"
"Ak.. akku mmm.." Ucap
Dikka terbata-bata.
"kenapa?"
"Aku mau ngomong penting sama
kamu Ris, tapi... em"
"tapi apa?"
" Tapi.."
"Tapi aku sudah tau apa yang
mau kamu omongin, tadi Riko cerita semuanya keaku. Sebaiknya kamu
cepat-cepat deh menemui pak Zafir, ngomong kalau kamu mau terima tawaran
itu.!"
"Tapi Rish??"
"Kenapa lagi?, Cinta kita ?,
Mungkin dengan hal ini cinta kita akan semakin kuat."
Dengan bujukan Risha, Akhirnya Dikka terima dengan baik
tawaran itu, meski harus meninggalkan orang-orang yang Dikka sayang.
Sebelum berangkat ke Cairo, Dikka kembali menemui Risha
untuk berpamitan.
" Rish, sebelum aku berangkat, aku
mau minta jawaban darimu, boleh?."
" Boleh.." jawab Risha singkat.
" Jika aku lulus nanti, apakah kamu
mau menjalin hubungan sama aku dengan suatu ikatan?"
Risha tersenyum, itu cukup memberi tanda bahwa Risha menyetujuinya.
"aku pegang janji kamu dik,
jaga cinta kita ya disana."
Dikka mengangguk, dan memberikan box kecil berisi jam
tangan berwarna putih, lambang kesucian cinta mereka.
***
Sampai diCairo, Mesir. Tempat itu begitu asing bagi Dikka,
tetapi dengan semangat yang Risha selalu beri, Dikka tetap asyik belajar di
Cairo hingga sampai dipenghujung kelulusan.
Dikka lulus sarjana dengan hasil sempurna. Mengingat
janjinya, Dikka tak ingin lama-lama berada di Cairo. Dikka kembali kekampung
halaman dengan membawa kabar gembira kepada orang tua dan teman-temannya.
Suasana malam hari itu sangat mendukung, disebuah ruang
keluarga Dikka yang sedang berkumpul , Dikka bercerita tentang cewek yang ingin
dilamarnya. Dengan senang hati , orang tua Dikka menyetujuinya. Mereka
bersepakat untuk melamar Risha besok malam.
***
Dag dig dug, perasaan Dikka tak tenang begitu sampai di
rumah Risha.
"Assalamu'alaikum.."
Suara itu tidak asing lagi di telinga Risha.
" Wa'alaikumsalam.."
Dikka membukakan pintu dan mempersilahkan Dikka dan keluarganya duduk
diruang tamu yang kebetulan keluarga Risha juga sedang berkumpul.
Tegang , perasaan Dikka ketika ayahnya memulai pembicaraan.
" Gini pak, tujuan kami kesini
ingin melamar Risha putri bapak, apakah bapak merestuinya?" Tanya ayahnya.
" Ma'af pak dengan berat hati,
kami harus memberi tahu, bahwa Risha putri kami sudah saya jodohkan dengan pria
lain "
". . .???" Dika kaget mendengarnya, hti Dikka hancur
berkeping-keping, sementara Risha sekejap menjadi bisu, dengan air mata yang
berlinangan membasahi pipinya, terlihat bahwa Risha juga merasakan hal yang
sama seperti dikka.
Orang tua Risha tak pernah memberi tahu tentang perjodohan itu, sehingga Risha berpikir tak usah dulu bercerita tentang Dikka, agar nanti menjadi kejutan saja.
Risha tak berani membantah kedua orang tuanya. Akhirnya cinta yang telah mereka jalin hampir genap 6 tahun menjadi pudar.
Orang tua Risha tak pernah memberi tahu tentang perjodohan itu, sehingga Risha berpikir tak usah dulu bercerita tentang Dikka, agar nanti menjadi kejutan saja.
Risha tak berani membantah kedua orang tuanya. Akhirnya cinta yang telah mereka jalin hampir genap 6 tahun menjadi pudar.
*****END*****
sma takhassus al-qur'an

Komentar
Posting Komentar