Akhir di Ujung Senja
“Sesungguhnya
tiada rasapun kekuatan selain datang dariMu ya Allah. Aku adalah kelemahan,
maka kuatkanlah dengan kehendak-Mu. Wahai pemiik angin senja ijinkanlah aku
menyiapkan lampu-lampu minyak sebelum datang gelap. Tanpa pendar lerap itu,
dengan apa aku bisa membedakan antara batu hitam dan menikam di jalan yang ku
lalui?!!”.Madah
Cahaya, Kalibeber, Mojotengah.
Dalam
pencarian cahaya Allah. Pesantren menjadi tempat menata hati dan pikiran.
Pesantren adalah api menempatkan jiwa. Jalan pesantren adalah jalan keikhlasan,
buka untuk mereka yang terpaksa jalan ini ada.
Begitulah
yang di ucapkan seseorang gadis kecil dalam buku catatannya yangb baru saja ia
tutup. Memang gadis kecil itu suka menceritakan kisahnya dalam buku hariannya. Sebut
saja namanya Asfa. Bocah mungil itu memang bertempat tinggal di salah satu
Pondok Pesantren di daerah Mojotengah. Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an
Riyaalut Thulab. Pondok ini di asuh oleh Kiyai Jazuli. Sebenarnya nama
lengkapnya Ahmad Jazuli, namun beliau lebih akrab di panggil abah oleh para
santri.
Asfa
gadis kecil itumenggelayutkan pikirannya menerawang jauh saat ia ingin memasuki
pesantren ini. Saat itu ia masuk kesini atas saran dari kakak iparnya dan dia
pula yang mengantar untuk mendaftarkan di pondok ini dan mengurus segala
keperluannya, seorang kakak perempuan walaupun bukan kakak kandung. Memang Asfa
adalah anak terakhir dari empat bersaudara yang tidak memiliki kakak perempuan.
Maka tak heran jika Asfa dan kakak iparnya begitu dekat. Banyak yang bilang
mereka saudara kandung, namanya Maily.
Sesampai
Asfa mendaftar mendaftar di pondok itu hanya diam. Entah apa yang ia rasakan.
Satu Minggu lagi ia akan memasuki dunia barunya.
“Gimana
nduk cocok sama pondok yang di pilih mbakmu?” ucap ibu membuyarkan lamunanku
“Ibu
bikin Asfa kaget aja… ehm insya Allah bu…… tapi …” ucap Asfa memandang ibunya
“Apa
lagi nduk? apa yang membuatmu ragu?”
“Kalo
Asfa di pondok nanti siapa yang menemani ibu?”
“Asfa,
ibu justru lebih sedih kalau Asfa tidak mau ke pondok, uda nggak usah pikirin
ibu ” ucap lembut sambil menusap kepala bocah itu.
Asfa
hanyut dalam sng ibu. Entah apa yang berkecamuk dalam batinnya, sungguh ia tak
ingin meninggalkan ibunya namun itulah keinginan Asfa sejak lulus SD dulu ingin
masuk pondok pesantren namun waktu itu sang
ibu belum mengijinkan.
Seminggu
bukan waktu yang lama untuk mempersiapkan semuanya. Justru sang ibu yang
mempersiapkan segalanya. Asfa hanya bisa melihatnya dalam pikirannya ia berkata
“ibu sungguh aku tak tega meninggalkanmu, namun semua ini sudah niatku”
Hari
ke berangkatan itu tiba juga Asfa berangkat ke pondok di antar seluruh
keluarga. Saat hendak berpamitan dengan keluarga ibu memeluk Asfa dan
membisikan beberapa nasehat dalam daun telingannya.
“Baik-baik
disini ea nduk” isak ibu di daun telingan Asfa terasa tersayat hatinya seakan
ia tak ingin melepas hangat dekapan sang ibu. Asfa hanya bisa mengangguk dan
dan menahan tangis yang sudah mengembang
ia berusaha agar air matanya
tidak mengalir dari kelopak matanya. Ia tak ingin ibunya melihat tetes air
matanya. Satu persatu keluarga berpamitan dan tak lupa maily Mbaknya, hati-hati
disini yan nduk? , ngaji, sekolah yang bener nggak usah neko-neko, pesan
mbaknya.
Asfa
naik keatas meninggalkan rombongan. Ia
tak ingin melihat mobil yang membawa rombongan keluarganya itu, namun di atas
kamarnya ia melihat dari jendela mobil yang di tumpangi keluarganya mulai mulai
melaju jauh meninggalkan pondok dan juga dirinya. Tanpa di sadari aliran bening
menetes membasahi jilbab coklatnya. Ia tersentak saat seorang menepuk dadanya.
Asfa menoleh dan mendapati seorang gadis cantik di sampingnya memakai jilbab
merah tersenyum manis padanya.
“sudah
mbak gak usah nangis, aku Dewi mbak siapa?” ucapnya seraya menyodorkan
tangannya
“ehm…
iya mbak, aku Asfa dai Demak, mbak dari mana?” ku balas sambutan tangan dari
Dewi.
“Ehm…
aku dari Pemalang, salam kenal ea” udah gak usah nangis lagi sana yuk? seraya
membimbingnya maju dekat tembok. Sejak saat itu Asfa dan Dewi menjadi teman
akrabnya dan ternya Dewi juga teman satu kelasnya.
Kedekatan
Asfa dan Dewi terus berlanjut hingga hampir satu tahun mereka berada di tempat
ini menimbah ilmu dan mengharap berkah mbah kiyai. Selama itu pula Dewilah
tempat Asfa berbagi keluh kesahnya suka dan duka ia luapkan pada Dewi begitu
pula dengan Dewi, mereka seolah menjadi saudara.
Alam
semesta khususk bertasbih memuja dan mengagungkan kebesaran Asma Allah dengan
segala kesunyian dan ketentraman. Alam terasa lepas tiada beban. tetesan
mebunpun mulai turun mengabarkan rahmat bagi tangan-tangan yang tergadah di
sepertiga waktu yang mulia ini.
Suasana
pondok masih sepi. Para santri masih terlelap dan larut dalam mimpinya
masing-masing. Mungkin mereka terlalau penat, setelah menahan rasa kantuknya
sepanjang malam belajar menghadapi buku kitab mereka. Dalam sepinya pagi seolah
ada yang membangunkan Asfa tuk munajab kepada sang pemilik nafas. Sejenak ia
terdiam mengumpulkan sedikit demi sedikit kesadarannya. Setelah melemaskan
beberapa anggota bagian tubuh yang terasa kaku, perlahan ia menuju kamar mandi
untuk bersuci. Setelah itu ia khusuk
dalam rakaat sholatnya. Ia bermunajat dan memejamkan mata beberapa saat, tak
tahu apakah ia telah berada di dalam bawah sadarnya. Ia bermimpi di temui
ibuny. Wajah ibu saat itu juga begitu teduh. Dalam mimpinya ibu berpamitan
kepada Asfa, ibu berpesan agar is istiqomah dalam menimba ilmu untuk ridlo
Allah. Asfa tersentak dan bangun ia beristighfar dan kembali berwudlu untuk
menunaikan sholat wajibnya.
Pagi
teramat tenang namun tanpa sinar sang mentari suara burung menyuguhkan akan
soneta hasia yang banyak di ketahui sang pamilik nafas. Sesekali hembusan angin
mengendap pelan. Entah kabar apa yang ia
bawa. Kabar yang tak bisa ia tafsirkan kecuali Ilahi.
Mengingat
Asfa akan seseorang dalam mimpinya semalam
“Hai
pagi!!!! uda melamun mikirin apa sih?” sentak Dewi membuyarkan lamunan Asfa.
“Ah
kamu ini Wik kebiasaan deh!... kalo
jantung aku copot gimana coba???” Serutnya seraya memukul lengan Dewi.
“Aw…
Low copot ntar tak sambung lagi” wkwkwkw ucap Dewi sambil mengikat tali
sepatunya
“Aku…aku
semalam mimpi ibi Wik” ucapnya
menerawang jauh, tapi dalam mimpi itu ibu pamit ke aku Wik, apa maksudnya ya Wik?? Asfa menatap teman di
sebelahnya.
Di
dalam kelas Asfa tak dapat berkonstrentasi dengan apa yang di berikan oleh sang
guru sesekali konsentrasi itu bisa bentuk, sesekali pula konstrentasi itu
buyar.
“Fa
kamu tu kenapa sih? melamun terus konsen dong Fa!” gertak Dewi serta merta
menggegerkan Asfa. Wik aku gak konsen aku kepikiran ibu. ucap bocah itu
tiba-tiba pintu kels di ketuk salh satu petugas BK ternyata sedang bercakap Bu
Nur guru mapel saat itu.
“Asfa
di panggil di BK sekarang juga”
“saya
bu?, tanya Asfa gugup”
“Iya,
kamu” Bu Nur menjawab tenang
“Aduh-aduh
Wik kok aku di panggil di BK ada apa ni? aku takut” ucap Asfa antara gugup dan
takut
ya
mana aku tahu emang kamu buat masalah apaan?
kamu
kamu gak merasa, uda gak uasah takut, uda sana ke BK kata Dewi menenangkan
Asfa
segera menuju ke BK dalam pikiran ia bertanya, ada apa dan mengapa sampai ia di
panggil di BK.
Kalau
ia mengingat-ingat ia tak membuat masalah tapi kenapa sampai di panggil di BK,
akhirnya ia berpikir positif, bukankan BK bukan tempat pengadilan terus, kenapa
aku harus takut, toh aku gak berbuat salah. Bissmillah, ia menenangkan hati
memasuki BK.
“Assalamu’alaikum”
Asfa mengetuk pintu setengah kaget karena ia melihat kakaknya telah ada di sana
“Waalaikum
salam” jawab kakak dan kepala BK bersamaan.
Maaf
pak ada apa kok saya dipanggil, apakah
ada sesuatu? bibir Asfa bergetar dan pandangannya menatap kelantai. Tidak ada
masalah kakak kamu kesini untuk menjmputmu karena ibu kamu sakit. Jawab kepala
BK menjelaskan.
Degggg….
hati Asfa tersentak matanya pedih namun ia berusaha menahan kristal bening itu
agar tidak jatuh. Sekarang kamu ambil tasmu dan ijin pada guru mapelmu. Suruh
kepala BK.
Asfa
kembali keruangan tempat pertama pelajaran awal, dalam perjalanan air matanya menetes ia tak mampu membendung lagi
sampai di kelas ia memintas ijin sama Bu Nur dan mengemasi barangnya tanpa sepatah katapun yang keluar
dari mulutnya Dewi dan teman sekelas di penuhi tanda tanya?.
Ada
apa Fa? kamu abis nangis? kamu mau kemana? tanya Dewi mengintrogasi tanpa titik
koma. Aku harus pulang Wik ibu aku sakit, Asfa menjawab datar.
Dewi
tank berani bertanya lagi, sebenarnya ia ingin bertanya satu atau dua
pertanyaan pada Asfa namun ia paham bagaimana perasaan Asfa, saat dalam situasi
ini maka niat itu ia urungkan. Asfa melangkan keluar di parkiran.
Kak,
emang ibu sakit apa? kok harus pulang mendadak,
“ibu
kangen sama kamu,” ucap dingin
Asfa
tak lagi bertanya pada sang kakak. Dalam perjalanan pulang pikirannya
bertanya-tanya, tiba-tiba terbesit dalam mimpinya semalam Asfa segera berzikir
dan berfikir positif.
Sampai
di rumah ia justru semakin kaget,
banyak orang di rumah, ia menepis pikiran negatif jauh-jauh.
kakak
mengandeng tangannya, Asfa terus berzikir dalam hatinya, ia memasuki ruang
tengah ibu mana?? belum sempat terucap mulut Asfa tak lagi dapat melanjutkan
kata itu….
ia melihat tubuh ibunya telah tertutupi
selendang batik kesayangan ibu lutut Asfa seolah tak lagi menopang tubuhnya air
matanya jatuh dari kedua pipinya. Kakaknya tetap menggembang tangan adiknya
satu-satunya itu. Ia membimbing mendekati jasad ibunya. Tak ada yang dapat di
lakukannya.
“Di
dalam hatinya sungguh perih” dalam hatinya ia berkata ibu, secepat inikah
engkau meninggalkan kau??! belum sempat aku membalas jasa-jasamu, belum sempat
aku meminta ma’af padamu ibu, aku tak sanggup ibi di saat hembusan terakhirmu
aku dan ada di sampingmu. Tuk melihat
senyum manismu ibu, aku hanya berdo’a engkau di terima di sisiNya.
Asfa
merasakan tangan merengkuh bahunya, seorang kakak ipar yang selalu menjadi bu
kedua baginya.
“Sabarkan
hatimu nok…. mbak tahu kamu kuat” jangan basahi jasad ibumu dengan air matamu
kasihan ibumu, mbak tahu kamu bisa. Istaighfar nok…. jangan buat ibumu sedih.
Dengan
lembut kakak iparnya merengkuh pundak bocah itu.
Air mata terus mengalir hingga memburamkan
penglihatannya, Glak…. Asfa tak sadarkan diri.
Setelah
kepergian sang ibu justru memjadi cambuk bagi dirinya. Kini Asfa tinggal
bersama-sama kakak pertama dan kakak iparnya,
“Nok
ibu sebelum meninggalkan kita memberikan amanat pada mbak atas usahamu” ucap
mbak memberitahu amanat terakhir sang
ibu. Asfa hanya bisa mengangguk mengerti.
Asfa
mulai mulai bangkit dari kematian ibunya. Ia belajar yang giat agar amanat yang
ia emban dapat ia laksanakan. Ia hampir kelas 2 SMA dan ia harus brusaha sekuat
tenaga agar dapat mempertahankan prestasinya. Alhamdulillah dengan bekerja
keras ia dapat mraih semuanya. Asfa memang anak yang penurut. Asfa selalu
menurut apa yang di katakan mbak iparnya tanpa berani membantah meskipun itu
bertentangan dengan dirinya. Ya memang setelah ibunya meninggal Asfa selalu
dekat dengan mbak iparnya itu, jauh sebelum ibunya tiada. Ia sebagai tempat
berbagi keluh kesahnya.
namun
semua itu tidaklah seperti apa yang di pikirkan Asfa, ya… emang dalam sebuah
perjalanan, ada kalanya seseorang berjalan mulus ada kalanya juga jatuh.
Kenyataan-kenyataan hidup yang sering kali tikung-menikung. Di awali kelas 2
ini Asfa mengalami cobaan yang begitu besar hingga ia sendiri tak tahu entah
apa yang akan di kerjakan. Hari Kamis tepatnya terjadi penggeledahan yang tanpa
di duga. Tiba-tiba seorang anggota OSIS
menemukan 30 butir obat terlarang dalam tas Dewi. ya…. Dewi yang selama ini
tman pendiam dan tempat Asfa bercurhat tak menyangka berbuat begitu.
“milik
siapa ini???” bentuk salah satu Pengurus OSIS dengan membawa barang bukti!! itu
bukan punya saya itu milik Asfa, kisah Dewi dengan terbata-bata.
“Derrrr…
Asfa tersentak kaget bagai tersengat ribuan watt listrik ia mendengar jawaban Dewi” Dew….Dew…
Dew….
Apa
maksudmu? aku gak tahu apa-apa, kenapa kamu bilang seperti itu?? ucap Asfa tak
menyangka
Alah…
udah deh bukannya kemarin kamu yang nitipin barang itu kepadaku? bentak Dewi
“Dewi
kenapa kamu bilang seperti itu? setega itulah kamu kepadaku?” ucap Asfa tak
bisa berbuat apa-apa
“Asfa
sudah ikut kami ke BK sekarang juga!” kata salah satu pengurus OSIS menegahi
Asfa dan Dewi
Sepeninggal
Asfa dalam hati Dewi hanya bisa mengucap “MAAFKAN AKU FA”
Di
BK Asfa di sidang dan akhirnya ia di keluarkan dari sekolah dengan perbuatan
yang tidak pernah ia lakukan.
Persahabatan
Asfa dan Dewi berakhir akibat dari penghianatan. Asfa pulang di jemput sang kakak, namun sang kakak bisa
mengetahui posisi adiknya bahwa tidak
mungkin ia melakukan hal itu, namun bagaimana dengan kakak iparnya???.
“Assalamu’alaikum”
Asfa memasuki rumah. Di dapatnya kakak iparnya sedang menyetrikan baju, tak ada
balasan salam darinya!
“Mbak”
Asfa mengulurkan tangan hendak menyalaminya namun tak ada reaksi dari kakak
iparnya bahkan memandangpun tak sudi. Hati Asfa pedih benar-benar miris.
Tiba-tiba sang kakak datang.
“Adine
ki ngajari sampean dek rak koyo ngono, sampean karo adine???” ucap kakak pada
istrinya.
Mendengar
kata seperti itu Maily menjulurkan tangan menyalami Asfa tanpa satu patah kata
bahkan membuang mukanya. Entah apa yang terjadi pada kakak iparnya tersebut. malam
harinya Asfa di sidang oleh Maily kakak iparnya dan kakak kanungnya sendiri.
“sebenarnya,
niat kamu jauh-jauh sekolah itu apa?” tanya
mbak membuka keheningan.
“Ngaji
dan belajar mbak” jawab Asfa tertunduk
“Ngaji,”
kok koyo ngono prcuma lehmu ngaji! kilah Maily
“Mbak,
Asfa gak melakukn semua itu mbak, itu bukan Asfa” Asfa mencoba membela dirinya.
“mana
ada aling ngaku” mely tettap bersikukuh.
“semua
bukan salah Asfa dia tidak melakukannya” bela sang kakak.
“Bukti
itu sudah jelas” bagaikan kacang lupa sama kulitnya.
“biyen
bocah clingus seng ra negerti apa-apa tkan sak iki nganti koyo ngene ra ana
balas budi blas” ucap Meily sinis.
“sudah
akau bilang semua itu bukan salah Asfa, sudah Fa gak udah kamu denger omongan
mbakmu” ucap kakak merengkuh adik satu-satunya dalam dekapnya.
Sejak
kejadian itu seolah tak ada kedekatan antara kakak beradik itu. Diam seolah tak
saling mengenal. Asfa berusaha mencairkan suasana agar tak sedingin dan sebeku
es. Namun usahanya hanya sia-sia. Memang sulit mengubah sifat mbakmu. Suatu
hari Meily kakak iparnya itu sedang sibuk Asfa mencoba membantu.
“Mabk
Asfa bantu” Asfa menawarkan
“gak
usah, tanpa bantuanmu aku bisa” selesaikan saja pekerjaanmu. Ucapan kakaknya
begitu menyayat. Asfa hanya bisa diam perih hatinya seolah ia tak lagi di
inginkan kehadirannya. Bagaikan seonggok patung hatinya menangis
“Ya
Allah mbak” sebegitu besar salahku padamu! hingga kau tak mau memaafkan aku?
semua itu bukan perbuatanku mbak. Semoga Allah membuka pintu hatimu mbak.
“Aku
tak bisa kau diamkan seperti ini” Asfa merintih dalam hati kecilnya.
Suatu
hari Meily kakak perempuannya sedang sibuk memasak di dapur, Asfa ingin sekali membantunya, namun karena Meily
tak menginginkannya, akhirnya Asfa duduk di ruang tamu bingung apa yan hendak
ia lakukan tiba-tiba kakak lakinya mendekati
“Apa
da to nduk, kok melamun begitu?” msalah sama mbakmu? tanya kakak laki-laki itu
sembari duduk di samping Asfa. Bocah itu hanya mengangguk
“kenapa
si kok mbak diam begitu sama Asfa, apa mbak
gak bisa maafin Asfa” jawab bocah itu menatap kakaknya.
“Fa,
jangan kamu masukin hati omongan mbakmu, mbak kamu orangnya memang seperti itu,
Asfa jangan diam seperti itu, pintar-pintar Asfa mnegambil hati mbak kamu”
“tapi
kak Asfa gak berani, Asfa diam aja kalo mbak diam” bantah Asfa
“Nah
itulah kelemahannya, Asfa sudah dewasakan? Asfa sudah bisa berfikir, Asfa diam
saja apalagi mbak kamu juga diam, kalo dua-duanya diam gak bakal selesai, dah
sekarang temui mbak kamu di dapur, ajak omong baik-baik” bujuk kakakmu
Asfa
pun melangkah menuju dapur dengan ragu dan sedikit keberanian ia menyapa kakak
iparnya.
“Mbak
?!” Asfa mulai membuka percakapan dengan sedikit suara parau. Namun kakak
perempuannya tak mau bergeming. “Mbak Asfa minta maaf, Asfa tahu mbak marah
sama Asfa, tapi mbak jangan diemin Asfa
kayak gini, ya Asfa akui kesalahan Asfa, namun mbak semua bukan salah Asfa.
Asfa nggak tahu semuanya mbak. Demi Allah maafin Asfa ya mbak”. Asfa langsung
memeluk Meily yang masih memegangi alat penggorengan air matanya tumpah dalam
pelukan Meily. Namun Meily masih tetap tak bergeming, namun akhirnya Meily
luluh juga. Ia membalas pelukan Asfa.
“Iya
nduk, mbak tahu mbak juga minta maaf, mbak tau juga mbak salah. Sudah yang lalu
biarlah berlalu mbak kaya gitu karena mbak sayang sama kamu mbak gak mau kalau
kamu tuch kenapa-kenapa karena mbak sayang kamu, kamu adik mbak satu-satunya,
mbak gak mau kamu tuch terjerumus, mbak gak mau itu karena mbak sayang sama
kamu. Maafin mbak juga kalau selama ini mbak sering galak sama Asfa”.
Meily
pun menangis dalam dekapan adik satu-satunya itu. Entah perasaan apa yang saat
itu tempat terjadi, karena yang sangat mengharukan. Akhirnya merekapun
berbaikan.
Namun
Indah madu hanya sementara….. sama halnya Capucino manis sementara namun pahit
lama-lama… yah kedekatan antara Meily dan Asfa tak berlangsung lama saat Asfa
mengunjungi Melly di tempat kerjanya. Sebuah mobil kijang melempar tubuh Asfa
di tengah jalan. Sekujur tubuh berlumuran darah di pangkuan Mellylah Asfa
menghembuskan nafas terakhirnya. Di iringi rono senja yang merah bekas matahari
tenggelam seolah menjadi saksi.
Komentar
Posting Komentar